"JEB & Partners"

Advokat & Konsultan Hukum

KAPOLSEK DIANIAYA MASSA : Istri Tersangka Penjudi Akui Teriaki Kapolsek Dolok

Ilustrasi pengeroyokan Kapolsek Dolok Pardamean.dokJIBI/SOLOPOS

SIMALUNGUN – Tersangka Tamaria Aruan, 48, istri Kosdin Saragih yang diduga sebagai provokator kasus tewasnya AKP Andar Siahaan, mengaku memang berteriak saat suaminya mau ditangkap. Tetapi teriakan itu meminta supaya suaminya jangan ditangkap karena sedang sakit.

“Aku cuma berteriak minta tolong sama polisi. Supaya suamiku tidak dibawa. Suamiku sedang sakit,” terang Tamaria Aruan yang sering dipanggil Mak Yenny, kepada wartawan di Mapolres Simalungun, Jumat (29/3/2013).

Menurut Tamaria, karena polisi tetap bersikeras menangkap suaminya, ia pun kembali berteriak. Tak disangka, teriakan Tamaria mengundang kedatangan warga yang duduk di warung kopi miliknya. Warga kemudian emosi dan mulai mengancam korban dan tiga polisi lainnya.

“Karena warga emosi, suamiku akhirnya dilepas. Terus polisi pergi,” kata Tamaria.

Setelah polisi pergi, Tamaria mengaku langsung masuk ke rumahnya. Ia mengatakan melihat warga mengejar mobil polisi namun tidak ikut terlibat penganiayaan korban.

Tamaria merupakan salah satu dari 21 orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap Kapolsek Dolok Pardamean AKP Andar hingga tewas. Tersangka lainnya, Dedi Girsang (21) mengatakan ikut mengejar korban dengan menggunakan sepeda motor. “Malam itu puluhan orang dari dusun kami yang mengejar dan memukuli. Aku hanya dua kali memukul pakai kayu,” kata Girsang di Mapolres Simalungun, Jumat (29/3/2013).

Girsang bersama tersangka lainnya mengaku tahu kalau korban seorang polisi. Namun karena terprovokasi tersangka lainnya Dedi tetap saja ikut menganiaya.

“Aku tahu dia polisi karena sebelumnya mengaku ketika menangkap Pak Yenny,” ungkap Girsang.

Pak Yenny yang dimaksud Girsang adalah Kosdin Saragih, tersangka bandar judi togel yang rencananya akan ditangkap Andar bersama tiga polisi lainnya pada Rabu (27/3) malam di Desa Butu Bayu Panei Raja, Kecamatan Dolok Pardamean.

Girsang menuturkan, meski korban telah sekarat ada warga yang berteriak dan memerintahkan agar membakar korban. Namun Girsang tidak mengetahui siapa yang memberikan perintah bakar karena suasana gelap.

Sumber : www.solopos.com

30 Maret 2013 - Posted by | Hukum & Kriminal |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s